Sudah berjalan 3 bulan semenjak 1 Juli 2011 dan sampai saat ini masih tidak ada perubahan yang berarti. Saya merupakan pengguna KRL ini sejak masih bernama KRL Pakuan Express. Really miss those times. Karena walaupun harganya lebih mahal sedikit (Rp. 11.000,00 vs Rp. 7.000,00) namun kondisinya jauh lebih nyaman ketimbang saat ini.
Single Operation
Saya bukanlah orang yang menentang penerapan pola ini. Namun tampaknya dari pihak Commuter Line sendiri masih belum siap untuk hal ini. Armada yang tersedia masih belum memadai. Jadwal keberangkatan masih sering terlambat dan waktu tempuh bertambah sekitar 30 – 40 menit ketimbang dengan Pakuan. Janji-janji manis bahwa akan ada kereta setiap 15 menit hanya merupakan omong kosong belaka. Walaupun saya sudah cukup menyadarinya ketika awal implementasi dari pihak KRL hanya mengatakan ke depannya dan nantinya akan ada jadwal 1 kereta setiap 15 menit sekali tanpa mampu memberitahu kapan tepatnya. Akibatnya terasa amat fatal. Kereta selalu penuh. Desak-desakan selalu terjadi dan bahkan tidak jarang pintu gerbong tidak dapat ditutup karena overloaded.
Kesalahan Penumpang?
Mungkin beberapa pihak memiliki pemikiran bahwa kereta penuh karena banyak penumpang yang tidak sabar untuk menunggu kereta berikutnya. Menurut saya hal ini tidak sepenuhnya benar. Sebagai gambaran, walaupun ada jadwal pemberangkatan, berapa persen yang sesuai waktu? Belum lagi ditambah seringnya terdapat gangguan rutin setiap minggunya yang membuat penumpang kesulitan untuk melakukan estimasi waktu tempuh yang diperlukan. Akibatnya jelas, penumpang lebih memilih untuk berdesak-desakan ketimbang mereka berpotensi lebih tinggi untuk terlambat beraktifitas dengan ikut jadwal berikutnya.
